Template by:
Free Blog Templates

Minggu, 16 Mei 2010

Sekolah Binatang

Posted by Julianto 18.12, under | No comments

Satu bidang yang sangat kritis di dalam penyebaran dan praktik Buddhadhamma yang tepat guna dalam rangka merealisasi kebahagiaan sejati adalah tempat penyebaran itu sendiri. Beragamnya tingkat kebudayaan, persepsi, minat, pengalaman dan kematangan batin para peserta di tempat penyebaran tersebut juga sangat mempengaruhi efektivitas dan kecepatan pencapaian tujuan tersebut.

Satu cerita di bawah ini dapat kita renungkan bersama maknanya sehingga kita dapat mengambil tindakan yang tepat di dalam upaya mencapai tujuan jangka pendek maupun merealisasi kebahagiaan sejati.

Alkisah pada satu masa, para binatang memutuskan bahwa mereka harus melakukan sesuatu yang heroik guna mengatasi masalah yang timbul dalam “satu dunia baru”. Jadi mereka mendirikan sebuah sekolah.

Mereka menerapkan kurikulum yang terdiri dari: lari, memanjat, renang, dan terbang. Untuk mempermudah pengaturan kurikulum itu, semua binatang harus mengambil semua mata pelajaran tersebut.

Itik piawai dalam renang, bahkan sesungguhnya lebih baik ketimbang instrukturnya, namun ia lulus dengan angka minimum dalam terbang dan sangat buruk dalam lari. Karena lamban dalam lari, ia harus tetap tinggal seusai jam sekolah dan juga melepaskan mata pelajaran renang hanya untuk belajar lari. Ini berlangsung terus-menerus sehingga kakinya yang berselaput menjadi terlalu letih dan ia pun hanya memperoleh angka rata-rata dalam renang. Tetapi angka rata-rata masih bisa diterima di sekolah, jadi tak satupun yang merisaukannya kecuali si itik itu sendiri.

Kelinci menjadi juara kelas dalam lari, tetapi mengalami gangguan saraf karena terlampau banyak tugas perbaikan dalam mata pelajaran renang.

Tupai hebat dalam memanjat, namun ia merebakkan rasa frustrasi di kelas terbang di mana gurunya kecapekan menyuruhnya memulai dari tanah ke atas dan bukannya dari puncak pohon ke bawah. Ia juga dilanda “kram kaki dan tangan” karena usaha yang terlampau keras serta kemudian malah mendapat nilai C dalam memanjat dan D dalam lari.

Sang elang adalah anak yang menyusahkan dan juga sulit didisiplinkan. Di dalam kelas memanjat, ia mengungguli semua binatang yang lain untuk sampai di puncak pohon, namun menuntut untuk menggunakan caranya sendiri untuk sampai di sana
Pada akhir tahun, seekor belut yang abnormal yang dapat berenang dengan baik, dan juga sedikit lari, memanjat dan terbang, meraih angka rata-rata tertinggi dan menyampaikan kata-kata perpisahan.

Anjing padang rumput keluar dari sekolah dan menentang iuran sekolah karena pengelolanya tidak memperbolehkan pencantuman pelajaran menggali liang ke dalam kurikulum. Anjing-anjing itu mengirim anaknya untuk magang ke seekor luak dan kemudian bergabung dengan para marmut serta tikus celurut untuk memulai sebuah sekolah swasta yang sukses.

Apakah fabel ini memiliki suatu pesan moral? Sepenuhnya tergantung tingkat ketajaman persepsi, analisa, kecenderungan dan pengalaman para pembaca.

0 komentar:

Posting Komentar